Seutas Nama dan Sejuta Cerita
"Hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang bagaimana kita belajar pulang — pulang ke rumah, pulang ke nama, pulang ke diri.”
Namaku Nahuda Aprisiska, aku lahir pada 13 April 2005. Aku dibesarkan di sebuah desa sederhana, di mana embun pagi menetes di rumput, angin membawa aroma tanah basah, dan burung berkicau tanpa lelah. Di tempat yang penuh kesederhanaan itulah aku belajar tentang kehidupan — bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk besar, tetapi hadir dalam potongan kecil yang kita syukuri.
Aku percaya bahwa setiap orang punya cerita hidupnya sendiri. Ada yang ceritanya terang, ada yang gelap, ada yang berliku, ada yang tenang. Semua cerita itu sah, semua cerita itu berharga. Aku pun punya ceritaku sendiri. Cerita yang ditenun dari kesederhanaan, doa-doa yang diam, mimpi yang perlahan tumbuh, dan keberanian untuk mengenali diri.
Salah satu cara aku merawat ceritaku adalah lewat musik. Aku senang bernyanyi, terutama lagu “Diri” dari Tulus. Lagu itu seperti teman lama yang selalu hadir saat aku butuh. Setiap baitnya seolah menuntunku menatap cermin dan berkata, “Tidak apa-apa kalau kamu pernah jatuh. Tidak apa-apa kalau kamu sedang belajar. Yang penting, kamu kembali ke dirimu sendiri.” Lagu itu bukan sekadar musik; ia adalah pelajaran tentang penerimaan, tentang berdamai dengan luka, tentang mencintai diri sendiri sebelum mencintai dunia.
Selain musik, aku juga mencintai film. Salah satu film yang paling membekas di hatiku adalah “When Life Gives You Tangerines.” Film itu mengajarkanku tentang kehidupan yang tampak sederhana — tentang masa muda, tentang persahabatan, tentang kehilangan, dan tentang kerinduan yang tidak selalu bisa diucapkan. “Jeruk kecil” dalam film itu adalah simbol kehidupan: kadang manis, kadang asam, kadang tidak terduga, tetapi selalu meninggalkan jejak rasa yang mengajarkan kita sesuatu. Dari film ini aku belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan pada momen besar, melainkan pada detik-detik kecil yang kita rawat dengan kesadaran dan syukur.
Aku memegang satu kalimat motivasi yang selalu menjadi penuntun langkahku:
“Aku tidak akan berhenti melangkah, meski jalan ini berliku; karena setiap langkah adalah doa dan harapan.”
Kalimat itu bagai jembatan antara aku dan keberanian. Saat aku merasa lelah, kalimat ini membisikkan kelembutan di telingaku: setiap langkah kecil tetap berarti, setiap perjalanan tetap mendewasakan, dan setiap luka tetap bisa menjadi guru.
Aku percaya bahwa dunia ini bukan hanya arena untuk mengejar mimpi, tetapi juga ruang untuk berhenti sejenak, mendengar cerita orang lain, dan belajar darinya. Setiap orang yang kita temui adalah guru; setiap pengalaman yang kita jalani adalah buku; dan setiap luka yang kita sembuhkan adalah doa yang terjawab. Itulah sebabnya aku senang berkenalan, berbagi kisah, dan mendengarkan. Dari cerita orang lain, aku belajar menjadi manusia yang lebih lembut, lebih lapang, dan lebih mengerti.
Aku berharap perkenalan ini bukan sekadar kata-kata yang lewat, tetapi jembatan yang menghubungkan kita. Semoga kita bisa saling menginspirasi, saling menguatkan, dan saling menemani dalam perjalanan menuju versi terbaik diri kita masing-masing. Karena aku percaya, kebersamaan yang tulus akan melahirkan cahaya yang lebih besar daripada cahaya yang kita bawa sendiri.
“Aku bukan hanya sedang mencari tujuan; aku sedang belajar menjadi rumah bagi diriku sendiri. Dan di dalam rumah itu, aku menemukan lagu, film, doa, dan cerita yang menguatkanku setiap kali aku goyah.”
Salam kenal dan salam damai dari aku

Keren
BalasHapus