Akhlak Tercela dalam Islam dan Cara Mencegahnya sebagai
Nama : Nahuda Aprisiska
Nim : 240101077
Kelas : PAI. III. D
Mata Kuliah : Pembelajaran Berbasis Teknologi
Dosen Pengampu: Ferry Haryadi, M.Pd
Assalamualaikum wr wb 🙏
Halo, teman-teman semua👋
Selamat datang di blog pembelajaran ini. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas materi mengenai "Akhlak Tercela dan Cara Mencegahnya". Materi ini saya susun dengan tujuan agar dapat dipelajari secara lebih terarah dan membantu kita memahami bagaimana Islam menuntun manusia untuk menjaga akhlaknya dari hal-hal yang tidak baik.
Blog ini saya buat sebagai salah satu tugas mata kuliah Pembelajaran Berbasis Teknologi. Karena itu, penyajian materi dibuat dalam bentuk digital agar dapat diakses kapan saja dan oleh siapa saja, khususnya bagi teman-teman yang ingin mempelajari materi ini secara mandiri.
Silakan dipelajari dan semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung dan selamat belajar😊🙌
Pendahuluan
Akhlak merupakan salah satu pilar terpenting dalam ajaran Islam. Melalui akhlak, seorang muslim dapat menunjukkan kesempurnaan imannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Islam tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi juga menjelaskan dengan jelas perilaku-perilaku yang dianggap tercela dan harus dijauhi.
Akhlak tercela adalah segala sikap, tindakan, dan kebiasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dalam Islam. Beberapa di antaranya seperti sombong, iri hati, hasad, dengki, khianat, dusta, dan lain sebagainya. Jika dibiarkan, akhlak-akhlak tersebut dapat merusak hubungan sosial, melukai orang lain, bahkan menodai keimanan seseorang.
Karena itu, mempelajari akhlak tercela bukan hanya untuk mengetahui larangan-larangannya, tetapi juga untuk menyadarkan diri akan bahaya yang ditimbulkannya. Dengan memahami dalil, contoh, dan akibatnya, seorang muslim dapat berusaha menghindari serta memperbaiki diri dari sikap-sikap tersebut.
Pembahasan ini juga dilengkapi dengan cara mencegah akhlak tercela berdasarkan pandangan Islam, sebagai bekal agar kita mampu membentuk pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Semoga materi ini dapat membantu kita lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui akhlak yang benar.
AKHLAK TERCELA DALAM ISLAM DAN CARA MENCEGAHNYA
1. Pengertian Akhlak Tercela
Secara etimologis, akhlak berasal dari kata khuluq yang berarti tabiat, perangai, atau kebiasaan yang melekat dalam diri seseorang. Akhlak tercela (akhlaq almadzmūmah) berarti segala bentuk sifat, sikap, atau perilaku yang bertentangan dengan norma-norma Islam serta menimbulkan kerusakan moral, spiritual, dan sosial. Dalam pandangan Islam, akhlak tercela bukan hanya tampak melalui tindakan lahiriah, tetapi juga dari niat dan sikap batin yang tersembunyi di dalam hati. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa akhlak tercela bersumber dari penyakit hati seperti cinta dunia, sombong, iri hati, dan hawa nafsu.
Oleh karena itu, upaya memperbaiki akhlak harus dimulai dari penyucian hati (tazkiyatun nafs). Rasulullah SAW sendiri menegaskan tujuan utama risalahnya adalah penyempurnaan akhlak manusia: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Dengan demikian, akhlak tercela merupakan penghambat utama bagi tercapainya kesempurnaan iman dan kesejahteraan sosial. Seseorang tidak dapat dikatakan beriman sempurna apabila dalam dirinya masih terdapat sifat-sifat buruk yang merusak hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
2. Macam-Macam Akhlak Tercela
a. Ghibah (Menggunjing)
Ghibah adalah membicarakan keburukan seseorang di belakangnya, baik hal itu benar adanya maupun tidak. Walaupun yang diucapkan sesuai fakta, ghibah tetap haram karena merendahkan martabat orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Ḥujurāt: 12). Rasulullah SAW bersabda: “Ghibah adalah engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai.” (HR. Muslim). Ghibah menimbulkan perpecahan, fitnah, dan permusuhan. Dalam konteks sosial, ia menghancurkan kepercayaan antarsesama dan menghilangkan ukhuwah.
Sedangkan secara spiritual, ghibah menghapus pahala amal dan mengakibatkan dosa besar. Imam Nawawi menjelaskan bahwa ghibah dapat terjadi dengan lisan, tulisan, isyarat, bahkan melalui sindiran di media sosial. Maka, seorang Muslim harus menahan lisannya dan menjaga kehormatan saudaranya. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim).
b. Namimah (Adu Domba)
Namimah adalah menyampaikan berita dari satu pihak ke pihak lain dengan maksud menimbulkan permusuhan. Perbuatan ini berakar dari rasa iri, dengki, atau keinginan untuk memperoleh perhatian dengan cara yang salah. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela dan yang suka menyebarkan fitnah.” (QS. Al-Qalam: 10–11). Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbuatan namimah menyebabkan rusaknya hubungan sosial dan menumbuhkan rasa curiga di tengah masyarakat. Dalam konteks modern, namimah juga bisa terjadi melalui penyebaran hoaks, gosip daring, atau pesan palsu yang memprovokasi kebencian. Islam menekankan prinsip tabayyun (klarifikasi) sebagai cara mencegah fitnah: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Ḥujurāt: 6). Dengan menahan diri dari menyebarkan berita yang belum pasti, seorang Muslim membantu menjaga stabilitas moral dan sosial umat.
c. Bakhil (Kikir)
Bakhil berarti enggan mengeluarkan harta meskipun mampu, baik untuk menolong sesama maupun untuk kepentingan agama. Sifat ini lahir dari cinta dunia dan kurangnya keyakinan pada pahala akhirat. Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Ḥasyr: 9). Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kamu.” (HR. Abu Dawud).
Sifat kikir menimbulkan ketimpangan sosial dan menghilangkan empati terhadap kaum lemah. Dalam masyarakat Islam, kekayaan bukanlah alat penindasan, tetapi sarana berbagi. Oleh karena itu, Islam menganjurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membersihkan hati dari kebakhilan. Bakhil tidak hanya dalam bentuk harta, tetapi juga dalam ilmu dan tenaga. Orang yang enggan berbagi ilmu atau kebaikan juga tergolong pelit dalam makna moral. Allah memperingatkan: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 180).
d. Dusta (Bohong)
Dusta adalah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, baik untuk keuntungan diri sendiri maupun untuk menutupi kesalahan. Sifat ini merupakan akar dari banyak dosa lain karena menimbulkan kerusakan dalam tatanan sosial dan keagamaan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119). Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sedangkan dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dusta menghancurkan kredibilitas seseorang dan merusak rasa saling percaya. Dalam kehidupan sosial, kebohongan dapat menimbulkan konflik, penipuan, dan ketidakadilan. Secara spiritual, kebohongan adalah tanda kemunafikan sebagaimana sabda Nabi SAW: “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kejujuran merupakan fondasi iman dan moralitas. Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menjadikan kejujuran sebagai prinsip hidup dalam setiap perkataan dan tindakan.
e. Tamak (Serakah)
Tamak adalah keinginan yang berlebihan terhadap harta, kedudukan, atau kekuasaan. Sifat ini timbul karena lemahnya iman dan hilangnya rasa syukur atas nikmat Allah. Allah SWT berfirman: “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20). Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah, dan tidak akan ada yang dapat memenuhi perutnya kecuali tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tamak membuat seseorang tidak pernah merasa cukup, selalu mengejar dunia tanpa batas, bahkan rela melanggar hukum dan nilai moral demi ambisi pribadi. Dalam pandangan Islam, sifat ini menjerumuskan manusia dalam kehinaan spiritual karena memperbudak dirinya pada dunia. Penawarnya adalah sifat qana‘ah, yaitu merasa cukup dan ridha terhadap ketentuan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana‘ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim).
3. Hal-hal yang Dapat Mencegah Akhlak Tercela
Akhlak tercela adalah segala sifat, perbuatan, dan kebiasaan buruk yang menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk mencegah munculnya akhlak tercela, diperlukan usaha yang berkelanjutan, kesadaran diri, serta lingkungan yang mendukung pembentukan karakter mulia. Berikut beberapa hal penting yang dapat mencegah akhlak tercela:
a. Memperkuat Iman dan Taqwa kepada Allah SWT
Iman dan taqwa menjadi dasar utama dalam pembentukan akhlak yang baik. Orang yang beriman akan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap tindakannya. Ketika iman melemah, seseorang cenderung mudah melakukan dosa dan maksiat. Dengan memperbanyak ibadah seperti salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an, iman akan semakin kuat dan hati menjadi bersih dari niat buruk. Taqwa juga membuat seseorang memiliki kesadaran spiritual untuk menjauhi segala larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya.
b. Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Rasulullah SAW adalah contoh terbaik bagi umat manusia dalam hal akhlak. Beliau dikenal dengan sifat shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas). Meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari membantu kita menumbuhkan karakter yang luhur seperti kesabaran, kasih sayang, dan kerendahan hati, sehingga mampu menghindari sifat tercela seperti sombong, iri, dengki, dan zalim.
c. Memilih Lingkungan dan Pergaulan yang Baik
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang. Jika bergaul dengan orang yang berakhlak buruk, maka perilaku tersebut bisa menular. Sebaliknya, berteman dengan orang yang saleh dan berilmu akan membawa pengaruh positif. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memilih lingkungan yang mendukung pembentukan akhlak terpuji dan menjauhkan dari perbuatan maksiat atau perilaku tercela.
d. Mengisi Waktu dengan Kegiatan Positif
Orang yang sering menganggur atau tidak memiliki aktivitas bermanfaat lebih mudah terjerumus ke dalam perbuatan tercela. Dengan mengisi waktu luang dengan kegiatan positif seperti belajar, berorganisasi, membantu sesama, atau beribadah, seseorang akan terhindar dari kebiasaan buruk dan sifat malas.
3. Kesimpulan
Akhlak tercela merupakan penyakit hati yang dapat merusak nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan tatanan sosial. Lima sifat yang dibahas ghibah, namimah, bakhil, dusta, dan tamak menunjukkan bagaimana perilaku negatif dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Ghibah dan namimah menghancurkan hubungan sosial dan menciptakan perpecahan di antara umat. Bakhil menumbuhkan ketimpangan sosial dan menutup pintu solidaritas. Dusta menghilangkan kepercayaan dan membawa kehancuran moral.
Sedangkan tamak menjerumuskan manusia ke dalam cinta dunia yang berlebihan hingga lupa pada akhirat. Dari sisi spiritual, akhlak tercela menutup hati dari cahaya keimanan dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah SWT. Sedangkan dari sisi sosial, sifat-sifat tersebut menyebabkan ketidakharmonisan, kebencian, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), introspeksi diri (muhasabah), serta memperbanyak amal kebajikan sebagai jalan pembersihan akhlak. Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan membersihkan hati dari akhlak tercela dan menanamkan akhlak terpuji seperti jujur, dermawan, rendah hati, dan sabar, seorang Muslim akan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Akhlak yang baik merupakan cerminan keimanan, sedangkan akhlak buruk adalah tanda lemahnya iman. Kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari perilaku moral terhadap sesama manusia. Oleh sebab itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa berusaha memperbaiki akhlaknya agar menjadi pribadi yang mulia dan diridhai Allah SWT.
📚Slide Pembelajaran
Untuk membantu memahami materi dengan lebih mudah, silakan pelajari melalui slide berikut ini
📝Latihan Soal
Setelah mempelajari materi di atas, yuk uji pemahamanmu dengan mengerjakan we soal berikut!
📊 Lihat Hasil / Skor
Ingin tahu hasil dan skor kamu?
Kamu dapat memantau hasil jawaban melalui tautan berikut ini!
🎬 Video Pembelajaran
Untuk mempelajari materi akhlak tercela secara lebih lengkap, silakan tonton video pembelajaran melalui tautan berikut:
🎥 Video Praktik Mengajar
Berikut ini merupakan video praktik mengajar saya terkait materi akhlak tercela. Silakan simak melalui tautan berikut:
PENUTUP
Di era digital saat ini, teknologi bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas pembelajaran. Melalui blog, video, presentasi, dan berbagai media online lainnya, proses belajar dapat dilakukan dengan lebih fleksibel, menarik, dan mudah diakses kapan pun dan di mana pun.
Mempelajari materi tentang akhlak tercela dan cara mencegahnya melalui media teknologi diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajak kita untuk memanfaatkan teknologi secara positif. Dengan memahami nilai-nilai akhlak Islam, kita dapat menggunakan teknologi sebagai alat untuk menyebarkan kebaikan, meningkatkan literasi agama, dan menghindari perilaku tercela yang sering muncul di dunia digital, seperti ujaran kebencian, fitnah, atau perilaku tidak sopan dalam interaksi online.
Melalui pembelajaran berbasis teknologi ini, semoga kita dapat mengambil manfaat ganda: memahami materi agama sekaligus belajar menjadi pengguna teknologi yang bijak. Terima kasih telah mengikuti pembelajaran ini, semoga bermanfaat dan dapat menjadi amal baik bagi kita semua.

Syukron
BalasHapus